Kamis, 25 April 2013

jenis-jenis makna dan gaya bahasa


A.     Jenis-Jenis Makna

1.      Makna emotif
            Djajasudarma (1993:12) menjelaskan makna emotif adalah makna yang melibatkan perasaan kearah yang positif. Makna emotif juga melibatkan perasaan (pembicara dan pendengar; penulis dan pembaca) ke arah yang positif.
Contoh: Ini adalah bunga di kampung itu.
Kata bunga di atas menunjukan bahwa ini lah bunga yang ada di kampung itu. Bisa juga dikatakan bahwa dia adalah bunga atau wanita yang di damba-dambakan orang di kampung itu.
            Pateda (2001:101) menjelaskan makna emotif adalah makna yang timbul akibat reaksi pembicara atau sikap pembicara mengenai atau terhadap apa yang dipikirkan atau dirasakan. Misalnya, kata kerbau yang muncul dalam urutan kata engkau kerbau. Kata kerbau  ini meninbulkan perasaan tidak enak bagi pendengar / dengan kata alin kata kerbau  mengandung makna emosi. Kata kerbau dihubungkan dengan prilaku yang malas dan di anggap sebagai penghinaan. Orang yang mendengarnya merasa tersinggung.

2.      Makna referensial dan non-referensial
      Djajasudarma (1993:14) makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataanatau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Makna ini memiliki hubungan dengan konsep, sama halnya seperti makna kognitif. Makna referensial memiliki hubungan dengan konsep tentang sesuatu yang telah disepakati bersama (oleh masyrakat bahasa), seperti telihat di dalam hubungan antara konsep (reference) dengan acuan (referent) pada segi tiga di bawah ini.





                                                                  (b) konsep



(a)    Kata ---------------------------------------------- (c) acuan
Hubungan yang terjalin antara sebuah bentuk kata dengan barang, hal, atau kegiatan (peristiwa) di luar bahasa tidak bersifat langsung, ada media yang terletak di antaranya.
      Menurut chaer  Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (1989:64) menjelaskan makna non-referensial seperti preposisi dan konjungsi. Karena kata itu tidak memiliki makna, maka banyak orang menyatakan kata-kata tersebut tidak memiliki makna. Kata tersebuta hanya memiliki kata tugas

3.      makna referensial dan non-referensial 
            Chaer Linguistik Umum (2007:291) menjelaskan sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya, atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata-kata seperti dan, atau dan karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna ferensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referens.
Contoh:
1.      “Tadi saya lihat Pak Ahmad duduk di sini,  sekarang dia ke mana?”
Tanya Pak Rasyid kepada para mahasiswa itu.
2.      “Kami di sini memang bertindak tegas terhadap para penjahat itu.”
Kata Gubernur DKI kepada para wartawan dari luar negri itu.
Jelas, kata  di sini pada kalimat (1) acuannya adalah sebuah tempat duduk; tetapi pada kalimat
(2)acuannya adalah satu wilayah DKI Jakarta Raya.

            Hasnah Faziah (2008:70) juga menjelaskan bahwa makna referensial adalah makna yang ada acuannya. Kata-kata seperti ayam, hijau, gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam kehidupan nyata. Berbeda halnya dengan kata-kata dan, dengan, karena merupakan kata—kata yang tidak bermakna referensial karena kata-kata itu tidak memiliki referensi.

4.      Makna Konstruksi

        Djajasudarma (1993:15) menjelaskan bahwa makna konstruksi (bhs. Inggris: construction mieaning) adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi, misalnya makna milik yang diungkapkam dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukan kepunyaan. Bandingkanlah contoh berikut:
(1)               itu buku saya
(2)               saya baca buku saya
(3)               perempuan itu ibu saya

    Pateda (2001:115) tidak jauh dengan Djajasudarma bahwa makna konstruksi adalah makna yang terdapat di dalam suatu konstruksi kebahasaan. Misalnya makna milik atau yang menyatakan kepunyaan.

B.     Gaya Bahasa
      Tarigan dalam skripsi Saprianto (2011:31) gaya bahasa adalah cara yang di gunakan bahasa secara imajinatif, bukan pengertian yang benar-benar kealamiah saja.
Contoh:
Obat Tuju ( Obat Sakit Dada)
Bismillahirrahmannirrahim
Au di guguk au di lomba
Koatkan pusat baginda ali
Berkat lailahhaillallah

Bismillahirrahmannirrahim
Aur di jurang aur di lembah
Potong urat baginda Ali

       Pada mantra di atas terdapat gaya bahasa repetisi. Gaya bahasa ini merupakan pengulangan kata, frase dan klausa, yang sama dalam suatu kalimat atau wacana. Hal ini yang di ungkapkan oleh Keraf dalam skripsi Saprianto (2011:32) “gaya bahasa repetisi adalahgaya bahasa perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang di anggap penting untuk memberikan tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai”. Gaya bahasa repetisi dapat dilihat pada kalimat “Au di guguk au di lomba”. Penggulangan pada kata “au yang mengalami dua kali pengulangan.

            Tarigan dalam skripsi Saprianto (2011:32) “gaya bahasa metonimia adalah sejenis gaya bahasa yang mempergunakan nama suatu barang yang lain berkaitan erat dengannya. Dalam metonimia suatu barang disebutkan tetapi yang dimaksud barang lain. Hal ini terdapat pada kalimat “koatkan pusat baginda Ali “. Kata “Ali” dalam mantra tersebut merupakan nama orang (sahabat Rasul) yang dilambangkan dalam mantra.

            Skripsi Roni Husriyadi (2012:30) mengatakan gaya bahasa personifikasi adalah gaya bahasa yang menyamakn benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir.
Contoh :
Cinta jangan pernah kau coba pergi
Karna di sini ku butuh kamu
Cinta jangan pernah kau coba lari
Karna di sini ku ingin kamu
            Contoh di atasa menggambarkan gaya bahasa personifikasi yakni pada kata “Cinta jangan pernah kau coba pergi”, karena cinta dianggap seolah-olah di umpamakan seperti manusia yang bias pergi.
            Gaya bahasa hiperbola adalah yang menyatakan sesuatu secara berlebih-lebihan baik jumlah, ukuran ataupun sifatnya dengan tujuan untuk menekan, memperhebat, meningkat pesan pengaruhnya.
Contoh :
Cinta jangan pernah kau coba pergi
Karna di sini ku butuh kamu
Cinta jangan pernah kau coba lari
Karna di sini ku ingin kamu
Cinta jangan pernah pergi
Cinta jangan pernah pergi
            Contoh di atas menggambarkan gaya bahasa hiperbola yakni pada kata “cinta jangan pernah kau coba pergi, cinta jangan pernah kau coba lari, cinta jangan pernah pergi”,  yang menyatakan pernyataan yang berlebih-lebihan.

DAFTAR PUSTAKA
Husriyadi, Roni. 2012. Analisis Gaya Bahasa dan Citraan Lirik Lagu Album Energi karya Kotak Band. Skripsi. FKIP UIR
Saprianto. 2011. Analisis Gaya Bahasa dan Makna dalam Mantra Pengobatan pada Masyarakat Melayu Petalangan di Kelurahan Sorek Satu Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan. Skripsi. FKIP UIR
Chaer, abdul. 2007. Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta
Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Semantik 2. Bandung: Refika Aditama
Faizah, Hasnah. 2010. Linguistik Umum. Pekanbaru: Cendikia Insani
Chaer, abdul. 1989. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Asdi Mahasatya
Djajasudarma, T. Fatimah. 2009. Semantik 1. Bandung: Refika Aditama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar